Total Tayangan Halaman

Rabu, 14 April 2010

Sakinah, Mawaddah, Warohmah



Membentuk kelurga sakinah, mawaddah warohmah bukanlah suatu hal yang sulit sebetulnya. Kuncinya yaitu bisa saling menerima dan memahami serta berjanji untuk bahu membahu dalam segala hal berdasarkan ajaran Islam yang sebenarnya.

Selasa, 13 April 2010

ANNASPALA WONOSOBO



TINGGAL GUNUNG SLAMET


tinggal gunung Slamet yang belum terdaki nech ....

UNIVERSITAS SAINS AL-QUR'AN

UNIVERSITAS SAINS AL-QUR'AN
UNSIQ JAWA TENGAH DI WONOSOBO


Profil Yayasan

Yayasan Pendidikan Ilmu-Ilmu Al-Qur’an (YPIIQ) Jawa Tengah di Wonosobo merupakan perubahan nama dari Yayasan Institut Ilmu Al-Qur’an (YIIQ). YIIQ didirikan pada tahun 1987 berdasarkan Akta Notaris Nomor 10 Tahun 1987.

Foto

pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al-Asy’ariyah Kalibeber Wonosobo, untuk membentuk Lajnah Pengkajian Al-Qur’an (LPQ) guna mempersiapkan berdirinya Pesantren Luhur Al-Qur’an. Gagasan tersebut mendapatkan respon positif dari para tokoh masyarakat di Jawa Tengah, yang terdiri dari empat pilar utama, yaitu: (1) ulama (pesantren), (2) umara (Pemda Propinsi Jawa Tengah & Pemda Kabupaten), (3) pengusaha (dunia usaha dan industri), dan (4) akademisi. Keempat pilar tersebut bekerjasama secara sinergis untuk mendirikan lembaga pendidikan tinggi yang memiliki ciri kealqur’anan di Jawa Tengah.

Pada tanggal 22 Maret 1987 dibentuk sebuah Tim Kerja untuk mendirikan Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) yang terdiri dari: Kanwil Depag. Jawa Tengah, Biro Bintal Propinsi Jawa Tengah, LPTQ Propinsi Jawa Tengah, dan beberapa dosen IAIN Walisongo Semarang. Kemudian pada tanggal 19 Mei 1987 Komisi E DPRD Propinsi Jawa Tengah menyetujui rencana Gubernur Jawa Tengah untuk mendirikan IIQ dengan nama lengkap ’’Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jawa Tengah di Wonosobo’’. Nama ’’Jawa Tengah’’ dicantumkan sebagai manifestasi pemrakarsa dan menunjukkan bahwa IIQ adalah milik Jawa Tengah yang ditempatkan di Wonosobo.

Dalam kunjungan kerja Menteri Agama RI, H. Munawir Sadzali, MA., pada tanggal 7 Agustus 1987 bertepatan dengan tanggal 13 Dzulhijjah --yang sekaligus dijadikan sebagai milad (dies natalis) IIQ-- Menteri Agama merestui dan menyetujui berdirinya IIQ Jawa Tengah yang bertempat di PPTQ Al-Asy’ariyah Kalibeber. Atas dorongan dan restu Menteri Agama RI tersebut, tepat pada tanggal 6 November 1987 di hadapan Notaris Budiadi Gunawan, SH. yang beralamat di Wonosobo, didirikan yayasan dengan nama YIIQ (Yayasan Institut Ilmu Al-Qur’an). Badan pendiri YIIQ beranggotakan: KH. Muntaha Al-Hafidz, Drs. Poedjihardjo, H. Halimi AR., Drs. Karseno, dan Drs. H. Mudhofar Cholil. Adapun susunan pengurus YIIQ (yang dikukuh sesuai dengan Akta Notaris Nomor: 10 Tahun 1987 tertanggal 6 November 1987) adalah sebagai berikut:

  • Ketua : H. Halimi, AR
  • Wakil Ketua I : Drs. Karseno
  • Wakil Ketua II : KH. Muntaha Al-Hafidz
  • Wakil Ketua III : Drs. Muchatif AS.
  • Sekretaris : H. Mudhofar Cholil,BA
  • Wakil Sekretaris : Sochid Adi Yuwono, BA
  • Bendahara : Dra. Siti Ngaisah Poedjihardjo
  • Anggota :
    • Drs. M. Ngisa
    • Drs. Achmad Syrozi Zuhdi
    • KH. Habibullah Idris
    • Moh. Irbabullubab, BA
    • Drs. Abdullah Hadziq, MA
    • Drs. Noor Ahmad, MA
    • Drs. Chabib Thoha, MA
    • Drs. Amin Syukur, MA
    • Drs. Rohadi
    • Drs. Amanun Harahap

Dalam dinamika perkembangan berikutnya, terjadi perubahan nama yayasan dan susunan pengurusnya berdasarkan Akta Notaris Nomor: 14 Tahun 1998. Yayasan Institut Ilmu Al-Qur’an (YIIQ) berubah nama menjadi: Yayasan Pendidikan Ilmu-Ilmu Al-Qur’an (YPIIQ) Jawa Tengah di Wonosobo. Adapun susunan pengurus YPIIQ Jawa Tengah di Wonosobo adalah sebagai berikut:

  • Ketua Umum : Drs. H. Soeparto
  • Ketua I : Drs. H. Margono, MM
  • Ketua II : Dr. H. Sudibjo Juwono, M.PH.
  • Ketua III : DR. H. Zamakhsyari Dhofier, MA
  • Sekretaris : Ex.Officio Sekretaris Wilayah Daerah Kabupaten Wonosobo
  • Wakil Sekretaris : Drs. H. Mudhofar Cholil
  • Bendahara : Dra. Hj. Siti Ngaisah Poedjihardjo
  • Anggota :
    • Drs. H. Karseno
    • Prof. Dr. Abu Su’ud
    • Drs. Wardjono
    • Drs. KH. Ahmad
    • H. Fuad Sahel
    • Drs. H. Musman
    • K.H. Habibullah Idris
    • Dra. Hj. Munawaroh Thowaf
  • Badan Pelaksana Harian : KH. Chabibullah Idris
  • Sekretaris : Drs. M. Abdul Kholiq
  • Anggota :
    • Drs. Syarif Hidayat
    • Drs. Abdullah

Tujuan Didirikannya YPIIQ

Tujuan dan maksud didirikannya Yayasan Pendidikan Ilmu-Ilmu Al-Qur’an (YPIIQ) Jawa Tengah di Wonosobo adalah untuk dan dalam rangka:

  1. Ikut serta membantu program Pemerintah di bidang pembangunan pendidikan nasional.
  2. Lebih mengefektifkan pengkajian, pemahaman, penghayatan nilai-nilai Al-Qur’an di kalangan Civitas Akademika dalam suasana diniyah, ilmiah dan ukhuwah.
  3. Lebih mengefektifkan usaha pelestarian Al-Qur’an melalui kegiatan membaca, menghafal, dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an serta mengkaji ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya, seperti Tajwid, Qiroat, Qowa’id, Balaghoh, Ilmu Tafsir, dan lain-lain.
  4. Menghasilkan cendekiawan, pakar, kader-kader ulama, sebagai pemimpin dalam bidang pendidikan, hukum, sosial kemasyarakatan, pembangunan bangsa dan negara, yang ber-tafaqquh fiddin dan berakhlaq mulia dengan mengedepankan nilai-nilai kealqur’anan dalam semangat, sikap dan perjuangan hidupnya.
  5. Menyajikan model pendidikan berbasis pesantren, yakni lembaga pendidikan tinggi yang memadukan antara mutiara pesantren dan pendidikan modern, sehingga lembaga pendidikan yang dikelola YPIIQ dapat menjadi mitra pondok pesantren dalam pengembangan insan yang berkualitas dalam aspek intelektualitas, moralitas, dan aktifitas

KISAH SURAJI


KISAH SURAJI
Oleh : Ahmad Nafi'
Kabut tipis menghalau pandangan mata pagi itu, jalan setapak di antara ladang petani, coklat basah terkena gerimis semalam. Seorang gadis membawa keranjang sayuran dipetiknya dari ladang. Terlihat berjalan sambil menundukkan wajahnya, tampak kesedihan dalam lipatan dahinya. Dengan langkah berat ia langkahkan kaki menuju tempat tinggal ayah, ibu, dia dan adiknya. Hidup di perkampungan kecil itu sekian lama turun temurun dari eyang-eyangnya dahulu.
Kampung kecil, jauh dari jalan raya, hilang dari hiruk pikuk pergaulan bsinis yang sinis. Sunyi pagi itu, sebagian warganya khususnya yang laki-laki pergi ke ladang menjenguk tumbuhnya harapan mereka yang pernah semi. Sebagian yang perempuan di rumah memasak sambil mengirimkan do’a - do’a mereka ke langit untuk Tuhan lewat aroma sedapnya, dengan harapan Tuhan mencium do’a mereka. Banyak pula srikandi-srikandi pencari rumput buat dang kambing dan kayu bakar untuk sekedar merebus beras. Kicau burung-burung menambha lengkap kesunyian laiknya kekasih yang ditinggal merantau. Taka ada suara radio seperti di desa lain, tak ada gambar televisi seperti di kampong sebelah yang dekat dengan jalan raya, tak ada Koran seperti di kecamatan. Benar-benar sunyi.
Sepuluh buah rumah berdiri di kampung itu, berbaris tak pernah teratur bagai tentara kehilangan komandannya, petualang kehilangan kompasnya. Di antara ladang dan kebun kopi. Dinding-dinding rumah mereka warna-warni sepertinya campuran catnya tidak pas sehingga mudah luntur terkena hujan. Atau mungkin cuma kapur. Bahan dindingnya dari papan mudah rapuh dimakan rayap atau beribik. Genting rumah mereka berwarna hijau ditumbuhi lumut-lumut akibat jarang terkena sinar matahari. Pepohonan rimbun tumbuh menjulang di samping-samping bangunan mereka, menambah senyap namun sejuk udar di sekitarnya.
Di salah satu bengunan rumah itu, tinggal sebuah keluarga dengan kepala keluarga bernama Urip Suraji, begitulah yang tertulis di KTP-nya. Entah nama asliya siapa. Katanya, itu nama pemberian orang tuanya karena dia lahir pada bulan Sura (bulan Jawa) tepat pada tanggal satu (siji).
Bersambung ......

Kemah Media Pendidikan Alternatif Strategis



Kemah Media Pendidikan Alternatif Strategis
Oleh : Ahmad Nafi'
Pendidikan di Indonesia saat ini sedang mengalami masa transisi. Pembenahan di berbagai segi sedang dilakukan oleh pemrintah maupun swasta. Para ahli di bidang pendidikan sedang melakukan penelitian terkait metode pendidikan yang paling mengena dalam melaksanakan proses pembelajaran. Media pendidikan pun menjadi masalah tersendiri yang begitu rumit. Untuk melaksakan pendidikan yang murah tetapi standara kompetensi dapat terpenuhiu memang sulit. Perlu adanya alternatif metode dan media pendidikan.
Salah satu solusi alternatif adalah dengan kegiatan camping, yakni sebuah kegiatan di alam terbuka yang memberikan media yang seluas-luasnya bagi peserta didik untuk belajar dari alam. Sekali-kali penting sebuah sekolah mengadakan acara perkemahan. Di dalam kegiatan tersebut guru sebagai fasilitator harus mampu mengarahkan siswa dalam mempelajari alam sesuai dengan pelajaran yang sedang dipelajari oleh siswa di kelas.
Alam bisa menjadi laboratorium IPA yang yang gedungnya luas beratapkan langit, di sana mereka bisa belajar matematika, IPS, Agama, Bahasa dan sebagainya. Dengan melihat tumbuhan disekitar pekemahan guru akan dengan mudahnya memberikan contoh jenis-jenis tumbuhan sehingga bisa diajarkan kepada siswa tentang klasifikasi tumbuhan misalnya. Di tempat perkemahan yang lapang dan datar apalagi di tempat yang tinggi, siswa bisa belajar tentang geografi., Begitu pula dengan tantangan alam siswa ditantang untuk meyakini bahwa alam yang mahaluas pasti ada yang menciptakan. Dan semua yang mereka alami adalah salah satu bagian dari proses kehidupan yang diataur oleh Tuhan di situlah guru mengajarkan pendidikan agama pada siswa.
Selain itu, yang lebih penting, dalam pembelajaran alam luar tersebut siswa diajari cara hidup mandiri dan survival, sehingga berguna untuk memperkuat keahlian memecahkan masalah dan mempertahankan diri. Tentunya sesuai dengan aturan yang ada.
Akan tetapi meski demikian mengenanya metode perkemahan ini, biaya yang akan dikeluarkan pasti banyak. Itu pandangan orang-orang, akan tetapi apabila terkonsep dengan matang dan termenej dengan bagus hasilnya akan luar biasa.
Insya Allah, besok Sabtu 17 April 2010, ANNASpala dan Madrasah Diniyah Mukasysyafatul Quluub akan mengadakan kegiatan camping pelajar. Siapa mau ikutan daftarin aja ke Kantor Pusat Yayasan Annaas Wonosobo, JL. Magelang, Km.36 Kapulogo, Kepil, Wonosobo atau bisa SMS/Call di 085327030789.
Selamat Mencoba!

Senin, 12 April 2010

POSISI BANGSA ARAB DAN KAUMNYA


SIRAH NABAWIYAH ( 01 ) Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury Sumber : Kitab Ar-Rahiqul Makhtum

POSISI BANGSA ARAB DAN KAUMNYA
Posted by: Ahmad Nafi'

Pada hakikatnya istilah Sirah Nabawiyah merupakan ungkapan tentang risalah yang dibawa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wasallam kepada manusia, untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, dari 'ibadah kepada hamba menuju 'ibadah kepada Allah. Dan tidak mungkin bisa menghadirkan gambarannya yang amat menawan secara pas dan mengena kecuali setelah melakukan perbandingan antara latar belakang risalah ini (risalah Nabawiyyah) dan pengaruhnya. Berangkat dari sinilah kami merasa perlu mengemukakan fasal yang berbicara tentang kaum-kaum 'Arab dan perkembangannya sebelum Islam, serta tentang kondisi-kondisi saat Nabi Muhammad diutus.

Posisi Bangsa Arab
Menurut bahasa, 'Arab artinya padang pasir, tanah gundul dan gersang yang tiada air dan tanamannya. Sebutan dengan istilah ini sudah diberikan sejak dahulu kala kepada jazirah Arab, sebagaimana sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan daerah tertentu, lalu mereka menjadikannya sebagai tempat tinggal.
Jazirah Arab dibatasi Laut Merah dan gurun Sinai di sebelah barat, di sebelah timur dibatasi teluk Arab dan sebagian besar negara Iraq bagian selatan, di sebelah selatan dibatasi laut Arab yang bersambung dengan lautan India dan di sebelah utara dibatasi negeri Syam dan sebagian kecil dari negara Iraq, sekalipun mungkin ada sedikit perbedaan dalam penentuan batasan ini. Luasnya membentang antara satu juta mil kali satu juta tiga ratus ribu mil.
Jazirah Arab memiliki peranan yang sangat besar karena letak geografisnya. Sedangkan dilihat dari kondisi internalnya, Jazirah Arab hanya dikelilingi gurun dan pasir di segala sudutnya. Karena kondisi seperti inilah yang membuat jazirah Arab seperti benteng pertahanan yang kokoh, yang tidak memperkenankan bangsa asing untuk menjajah, mencaplok dan menguasai Bangsa Arab. Oleh karena itu kita bisa melihat penduduk jazirah Arab yang hidup merdeka dan bebas dalam segala urusan semenjak zaman dahulu. Sekalipun begitu mereka tetap hidup berdampingan dengan dua imperium yang besar saat itu, yang serangannya tak mungkin bisa dihadang andaikan tidak ada benteng pertahanan yang kokoh seperti itu.
Sedangkan hubungannya dengan dunia luar, Jazirah Arab terletak di benua yang sudah dikenal semenjak dahulu kala, yang mempertautkan daratan dan lautan. Sebelah barat Laut merupakan pintu masuk ke benua Afrika, sebelah timur laut merupakan kunci untuk masuk ke benua Eropa dan sebelah timur merupakan pintu masuk bagi bangsa-bangsa non-Arab, timur tengah dan timur dekat, terus membentang ke India dan Cina. Setiap benua mempertemukan lautnya dengan Jazirah Arab dan setiap kapal laut yang berlayar tentu akan bersandar di ujungnya.
Karena letak geografisnya seperti itu pula, sebelah utara dan selatan dari jazirah Arab menjadi tempat berlabuh berbagai bangsa untuk saling tukar-menukar perniagaan, peradaban, agama dan seni.

Kaum-kaum Arab
Ditilik dari silsilah keturunan dan cikal-bakalnya, para sejarawan membagi kaum-kaum Arab menjadi tiga bagian, yaitu:
- Arab Bâ-idah, yaitu kaum-kaum Arab terdahulu yang sudah punah dan tidak mungkin sejarahnya bisa dilacak secara rinci dan komplit, seperti 'Ad, Tsamud, Thasm, Judais, 'Imlaq dan lain-lainnya.
- Arab 'ÂAribah, yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Ya'rib bin Yasyjub bin Qahthan, atau disebut pula Arab Qahthaniyah.
- Arab Musta'ribah. yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Isma'il, yang disebut pula Arab 'Adnaniyah.

Tempat kelahiran Arab 'ÂAribah atau kaum Qahthan adalah negeri Yaman, lalu berkembang menjadi beberapa kabilah dan suku, yang terkenal adalah dua kabilah:
Kabilah Himyar, yang terdiri dari beberapa suku terkenal, yaitu Zaid Al-Jumhur, Qudhâ'ah dan Sakâsik.
Kahlân, yang terdiri dari beberapa suku terkenal yaitu Hamadan, Anmar, Thayyi', Madzhaj, Kindah, Lakham, Judzam, Azd, Aus, Khazraj, anak keturunan Jafnah raja Syam dan lain-lainnya. Suku-suku Kahlân banyak yang hijrah meninggalkan Yaman, lalu menyebar ke berbagai penjuru Jazirah menjelang terjadinya banjir besar saat mereka mengalami kegagalan dalam perdagangan. Hal ini sebagai akibat dari tekanan Bangsa Romawi dan tindakan mereka menguasai jalur perdagangan laut dan setelah mereka menghancurkan jalur darat serta berhasil menguasai Mesir dan Syam, (dalam riwayat lain) dikatakan : bahwa mereka hijrah setelah terjadinya banjir besar tersebut.

Juga tidak menutup kemungkinan jika hal itu sebagai akibat dari persaingan antara suku-suku Kahlan dan suku-suku Himyar, yang berakhir dengan keluarnya suku-suku Himyar dan pindahnya suku-suku Kahlân.

Suku-Suku Kahlân yang berhijrah bisa dibagi menjadi empat golongan :
1. Azd
Kehijrahan mereka langsung dipimpin oleh pemuka dan pemimpin mereka, 'Imran bin 'Amru Muzaiqiya'. Mereka berpindah-pindah di negeri Yaman dan mengirim para pemandu; lalu berjalan ke arah utara dan timur. Dan inilah rincian akhir tempat-tempat yang pernah mereka tinggali setelah perjalanan mereka tersebut : Tsa'labah bin Amru pindah dari al-Azd menuju Hijaz, lalu menetap diantara (tempat yang bernama) Tsa'labiyah dan Dzi Qar. Setelah anaknya besar dan kuat, dia pindah ke Madinah dan menetap disana. Dan diantara keturunan Tsa'labah ini adalah Aus dan Khazraj, yaitu dua orang anak dari Haritsah bin Tsa'labah.
Diantara keturunan mereka yang bernama Haritsah bin 'Amr (atau yang dikenal dengan Khuza'ah) dan anak keturunannya berpindah ke Hijaz, hingga mereka singgah di Murr azh-Zhahran, yang selanjutnya membuka tanah suci dan mendiami Makkah serta mengekstradisi penduduk aslinya, al-Jarahimah. Sedangkan 'Imran bin 'Amr singgah di Omman lalu bertempat tinggal di sana bersama anak-anak keturunannya, yang disebut Azd Omman, sedangkan kabilah-kabilah Nashr bin aI-Azd menetap di Tuhâmah, yang disebut Uzd Syanû-ah. Jafnah bin 'Amr pergi ke Syam dan menetap di sana bersama anak keturunannya. Dia dijuluki Bapak para raja al-Ghassâsinah, yang dinisbatkan kepada mata air di Hijaz, yang dikenal dengan nama Ghassân yang telah mereka singgahi sebelum akhimya pindah ke Syam.

2. Lakhm dan Judzam
Lakhm dan Judzam; mereka pindah ke bagian Timur dan Barat. Tokoh di kalangan mereka adalah Nashr bin Rabi'ah, pemimpin raja-raja Al-Manadzirah di Hirah.
3. Bani Thayyi'
Mereka berpindah ke arah utara setelah perjalanan Azd hingga singgah di antara dua gunung; Aja dan Salma, dan akhirnya menetap di sana dan kedua gunung tersebut kemudian dekenal dengan dua gunungThayyi'.

4. Kindah
Mereka singgah di Bahrain, kemudian terpaksa meninggalkannya dan singgah di Hadhramaut. Namun nasib mereka tidak jauh berbeda dengan apa yang menimpa mereka saat berada di Bahrain, hingga mereka pindah lagi ke Najd. Di sana mereka mendirikan pemerintahan yang besar dan kuat. Tapi pemerintahan itu cepat berakhir tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Di sana ada satu kabilah Himyar yaitu Qudha'ah (meskipun masih diperselisihkan penisbatannya kepada Himyar)yang meninggalkan Yaman dan bermukim di daerah pedalaman as-Samawah, pinggiran Iraq.

Adapun Arab Musta'ribah, mereka merupakan cikal bakal dari nenek moyang mereka yang tertua Ibrahim 'Alaihis-Salam, yang berasal dari negeri Iraq, dari sebuah kota yang disebut Ar, dan terletak di pinggir barat sungai Eufrat, berdekatan dengan Kufah. Cukup banyak upaya penggalian dan pengeboran yang dilakukan untuk mengungkap rincian yang mendetail tentang kota ini dan keluarga Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam serta kondisi religius dan sosial yang ada di negeri itu.

Sudah diketahui bersama bahwa Ibrahim ' Alaihis Salam hijrah dari Iraq ke Hâran atau Hirran, termasuk pula ke Palestina, dan menjadikan negeri itu sebagai pijakan/markas dakwah beliau. Beliau banyak menyusuri pelosok negeri ini dan lainnya, dan beliau pernah sekali mengunjungi Mesir. Fir-'aun (sebutan bagi penguasa Mesir) kala itu berupaya untuk melakukan tipu daya dan niat buruk terhadap istri beliau, Sarah. Namun Allah membalas tipu dayanya (senjata makan tuan). Dan tersadarlah Fir'aun itu betapa kedekatan hubungan Sarah dengan Allah hingga akhirnya ia jadikan anaknya, Hajar sebagai abdinya (Sarah). Hal itu dia lakukan sebagai tanda pengakuannya terhadap keutamaannya, kemudian dia (Hajar) dikawinkan oleh Sarah dengan Ibrahim. Ibrahim Alaihis Salam kembali ke Palestina dan Allah menganugerahinya Isma'il dari Hajar. Sarah terbakar api cemburu. Dia memaksa Ibrahim untuk mengekstradisi Hajar dan putranya yang masih kecil, Isma'il. Maka beliau membawa keduanya ke Hijaz dan menempatkan mereka berdua di suatu lembah yang tiada ditumbuhi tanaman (gersang dan tandus) di sisi Baitul Haram, yang saat itu hanyalah berupa gunduka~gundukan tanah. Rasa gundah mulai menggayuti pikiran Ibrahim, Beliau menoleh ke kiri dan kanan, lalu meletakkan mereka berdua di dalam tenda, diatas mata air zamzam, bagian atas masjid. Dan pada saat itu tak ada seorang pun yang tinggal di Makkah dan tidak ada mata air. Beliau meletakkan didekat mereka kantong kulit yang berisi kurma, dan wadah air. Setelah itu beliau kembali lagi ke Palestina. Berselang beberapa hari kemudian, bekal dan air pun habis. Sementara tidak ada mata air yang mengalir. Disana tiba-tiba mata air Zamzam memancar berkat karunia Allah, sehingga bisa menjadi sumber penghidupan bagi mereka berdua hingga batas waktu tertentu. Kisah mengenai hal ini sudah banyak diketahui secara lengkapnya.

Suatu kabilah dari Yaman (Jurhum Kedua) datang setelah itu dan bermukim di Mekkah atas perkenan dari ibu Isma'il . Ada yang mengatakan, mereka sudah berada di sana sebelum itu, tepatnya di lembah-lembah di pinggir kota Makkah. Adapun riwayat Bukhari menegaskan bahwa mereka singgah di Mekkah setelah kedatangan Isma'il dan ibunya, sebelum Isma'il menginjak remaja. Mereka sudah biasa melewati lembah Makkah ini sebelum itu.
Dari waktu ke waktu Ibrahim datang ke Makkah untuk menjenguk keluarganya. Dalam hal ini tidak diketahui berapa kali kunjungan/perjalanan yang dilakukannya, Hanya saja menurut beberapa referensi sejarah yang dapat dipercaya, kunjungan itu dilakukan sebanyak empat kali. Allah telah menyebutkan di dalam Al-Qur'an, bahwa Dia Ta'ala memperlihatkan Ibrahim dalam mimpinya seolah-olah dia menyembelih anaknya, Isma'il. Maka beliau langsung melaksanakan perintah ini. Allah berfirman :

"Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim menbaringkan onaknya atar pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan, kami panggillah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mrmbenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan, Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. " (Ash-Shaffat: 103-107).
Didalam Kitab Kejadian disebutkan bahwa umur Isma'il selisih tiga belas tahun lebih tua dari Ishaq. Secara tekstual, kisah ini menunjukkan bahwa peristiwa itu tejadi sebelum kelahiran Ishaq sebab kabar gembira tentang kelahiran Ishaq disampaikan setelah pengupasan kisah ini secara keseluruhan.

Setidak-tidaknya kisah ini mengandung satu kisah perjalanan sebelum Isma'il menginjak remaja. Sedangkan tiga kisah selanjutnya telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara panjang lebar dari Ibnu 'Abbas secara marfu', yang intinya bahwa ketika remaja Isma'il dan belajar bahasa Arab dari kabilah Jurhum, mereka merasa tertarik kepadanya, lalu mereka mengawinkannya dengan salah seorang wanita golongan mereka dan saat itu ibu Isma'il sudah meninggal dunia. Maka suatu saat Ibrahim hendak menjenguk keluarga yang ditinggalkannya setelah terjadinya pernikahan tersebut, beliau tidak mendapatkan Isma'il, lalu beliau bertanya kepada istrinya mengenai suaminya, Isma'il dan kondisi mereka berdua. Istri Isma'il mengeluhkan kehidupm mereka yang melarat. Maka Ibrahim menitip pesan agar suaminya nanti mengganti palang pintu rumahnya. Setelah diberitahu, Isma'il mengerti maksud pesan ayahnya. Maka Isma'il menceraikan istrinya itu dan kawin lagi dengan wanita lain, yaitu putri Madhdhadh bin 'Amr, pemimpin dan pemuka kabilah Jurhum menurut pendapat kebanyakan (sejarawan-pen).

Setelah perkawinan Isma'il yang kedua ini, Ibrahim datang lagi, namun tidak bertemu dengan Isma'il lalu akhirnya kembali ke Palestina setelah beliau menanyakan kepada istrinya tersebit tentang Isma'il dan kondisi mereka berdua, isterinya memuij kepada Allah (atas apa yang dianugerahkan kepada mereka berdua). Kemudian Ibrahim kembali menitip pesan lewat istri Isma'il, agar Isma'il memperkokoh palang pintu rumahnya. Pada kedatangan yang ketiga kalinya Ibrahim bisa bertemu dengan Isma'il, yang saat itu sedang meraut anak panahnya di bawah sebuah pohon di dekat zamzam. Tatkala melihat kehadiran ayahnya, Isma'il berbuat sebagaimana layaknya seorang anak yang lama tidak bersua bapaknya, begitu juga dengan Ibrahim. Pertemuan ini terjadi setelah sekian lama yang sangat jarang dijumpai seorang ayah yang penuh rasa kasih sayang dan lemah lembut bisa menahan kesabaran untuk bersua anaknya, begitu pula dengan Isma'il, sebagai anak yang berbakti dan shalih. Dan kali ini mereka berdua membangun Ka'bah dan meninggikan pondasinya. Kemudian Ibrahim pun mengumumkan kepada khalayak agar melakukan haji sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kepadanya.

Dari perkawinannya dengan putri Madhdhadh, Isma'il dikaruniai oleh Allah sebanyak dua belas orang anak yang semuanya laki-laki, yaitu: Nabat atau Nabayuth, Qidar, Adba-il, Mubsyam, Misyma', Duma, Misya, Hidad, Yatma, Yathur, Nafis dan Qaidaman. Dari mereka inilah kemudian berkembang menjadi dua belas kabilah, yang semuanya menetap di Mekkah untuk beberapa lama. Mata pencaharian mayoritas mereka adalah berdagang dari negeri Yaman ke negeri Syam dan Mesir. Selanjutnya kabilah-kabilah ini menyebar di berbaga i penjuru Jazirah, dan bahkan hingga keluar Jazirah, kemudian seiring dengan pejalanan waktu, keadaan mereka tidak lagi terdeteksi, kecuali anak keturunan Nabat dan Qidar.

Peradaban anak keturunan Nabat mengalami kemajuan di bagian utara Hijaz. Mereka mampu mendirikan pemerintahan yang kuat dan menguasai daerah-daerah di sekitarnya, dan menjadikan Al-Bathra' sebagai ibukotanya. Tak seorangpun yang mampu melawan mereka hingga datangnya pasukan Romawi yang berhasil melindas mereka. Sekelompok Peneliti berpendapat bahwa raja-raja keturunan keluarga besar Ghassan, termasuk juga kaum Anshor dari suku Aus dan Khazraj bukan berasal dari keturunan keluarga besar Qahthan, tetapi mereka adalah dari keturunan keluaraga besar Nabat, anak Isma'il dan sisa-sisa mereka masih berada di kawasan itu, dan pendapat ini diambil oleh Imam Bukhari sedangkan Imam Ibnu Hajar menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa anak keturunan keluarga besar Qahthan adalah berasal dari keturunan keluarga besar Nabat.

Adapun anak keturunan Qidar bin Isma'il masih menetap di Makkah, beranak pinak di sana hingga menurunkan 'Adnan dan anaknya Ma'ad. Dari dialah orang-orang Arab Adnaniyah menisbatkan nasab mereka. Dan Adnan adalah nenek moyang kedua puluh satu dalam silsilah keturunan Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam. Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam, jika beliau menyebutkan nasabnya dan sampai kepada Adnan, maka beliau berhenti dan bersabda, "Para ahli silsilah nasab banyak yang berdusta", lalu beliau tidak melanjutkannya. Segolongan ulama memperbolehkan mengangkat nasab dari Adnan ke atas dan melemahkan (mendho'ifkan) hadits yang mengisyaratkan hal itu (hadits yang disebut diatas). Menurut mereka berdasarkan penelitian yang detail; sesungguhnya antara Adnan dan Ibrahim 'Alaihis-Salam terdapat empat puluh keturunan.

Keturunan Ma'ad dari anaknya, Nizar telah berpencar kemana-mana (menurut suatu pendapat, Nizar adalah satu-satunya anak Ma'ad). Dan Nizar sendiri mempunyai empat orang anak, yang kemudian berkembang menjadi empat kabilah yang besar, yaitu: Iyad, Anmar, Rabi'ah dan Mudhar. Dua kabilah terakhir inilah yang paling banyak marga dan sukunya. Sedangkan dari Rabi'ah muncul Asad bin Rabi'ah, Anzah, Abdul-Qais, dua anak Wa-il ;Bakr dan Taghlib, Hanifah dan lain-lainnya.

Sedangkan kabilah Mudhar berkembang menjadi dua suku yang besar, yaitu Qais 'Ailan bin Mudhar dan marga-marga Ilyas bin Mudhar. Dan dari Qais 'Ailan muncul Bani Sulaim, Bani Hawazin, Bani Ghathafan. Kemudian dari Ghathafan muncul 'Abs, Dzibyan, Asyja' dan Ghany bin A'shar.

Dari Ilyas bin Mudhar muncul Tamim bin Murrah, Hudzail bin Mudrikah, Bani Asad bin Khuzaimah dan marga-marga Kinanah bin Khuzaimah. Dan dari Kinanah muncul Quraisy, yaitu anak keturunan Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah.
Quraisy terbagi menjadi beberapa kabilah, yang terkenal adalah Jumuh, Sahm, 'Udai, Makhzum, Tim, Zuhrah dan suku-suku Qushay bin Kilab, yaitu Abdud Dar bin Qushay, Asad bin Abdul 'Uzza bin Qushay dan Abdu Manaf bin Qushay.
Sedangkan Abdu Manaf mempunyai empat anak: Abdu Syams, Naufal, al-Muththalib dan Hasyim. Hasyim adalah keluarga yang dipilih oleh Allah yang diantaanya muncul Muhammad bin Abdullah bin Abdul-Muththalib bin Hasyim. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda:
"Sesungguhnya Allah telah memilih isma'il dari anak keturunan Ibrahim, memilih Kinanah dari anak keturunan Isma'il, memilih Quraisy dari anak keturunan Bani Kinanah, memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy dan memilihku dari keturuan Bani Hasyim. ".(H.R. Muslim dan at-Turmudzy).

Dari al-'Abbas bin Abdul Muththalib, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda:
"Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk, lalu Dia menjadikanku dan sebaik-baik golongan mereka dan sebaik-baik dua golongan, kemudian memilih beberapa kabilah, lalu menjadikanku diantara sebaik-baik kabilah, kemudian memilih beberapa keluarga Ialu menjadikanku diantara sebaik-baik keluarga mereka, maka aku adalah sebaik-baik jiwa diantara mereka dan sebaik-baik keluarga diantara mereka". (Diriwayatkan oleh at-Turmudzy).

Setelah anak-anak 'Adnan beranak-pinak, mereka berpencar diberbagai tempat di penjuru jazirah Arab, menjelajahi tempat-tempat yang banyak curah hujannya dan ditumbuhi oleh tanaman.

Abdul Qais dan keturunan Bakr bin Wa-il serta keturunan Tamim pindah ke Bahrain dan menetap di sana. Sedangkan Bani Hanifah bin Sha'b bin Ali bin Bakr bergerak menuju Yamamah dan singgah di Hijr, ibukota Yamamah. Semua keluarga Bakr bin Wa-il menetap di berbagai penjuru tanah Jazirah, mulai dari Yamamah, Bahrain, Saif Kazhimah hingga mencapai laut, kemudian tanah kosong Iraq, al-Ablah hingga Haita.

Taghlib menetap di Jazirah dekat kawasan Eufrat, diantaranya terdapat suku-suku yang pernah hidup berdampingan dengan (kabilah) Bakr sedangkan Bani Tamim menetap di daerah pedalaman Bashrah. Bani Sulaim menetap dekat Madinah, dari Wadi al-Qura hingga ke Khaibar hingga bagian timur Madinah mencapai batas dua gunung hingga berakhir di kawasan pegungan Hurrah. Sementara Tsaqif menetap di Tha'if dan Hawazin di timur Makkah dipinggiran Authas yaitu dalam perjalanan antara Makkah dan Bashrah. Dan Bani Asad bermukim di timur Taima' dan barat Kufah. Mereka dan Taima' diantarai perkampungan Buhtur dari suku Thayyi'. Sedangkan masa perjalanan mereka dan Kufah ditempuh selama lima hari. Ada lagi suku Dzubyan yang bermukim di dekat Taima' menuju Huran. Di Tihamah tersisa beberapa suku-suku Kinanah, sedangkan di Makkah tinggal suku-suku Quraisy. Mereka berpencar-pencar dan tidak ada sesuatupun yang bisa menghimpun mereka, hingga muncul Qushay bin Kilab. Dialah yang menyatukan mereka dan membentuk satu kesatuan yang bisa mengangkat kedudukan dan martabat mereka.