Total Tayangan Halaman

Selasa, 13 April 2010

KISAH SURAJI


KISAH SURAJI
Oleh : Ahmad Nafi'
Kabut tipis menghalau pandangan mata pagi itu, jalan setapak di antara ladang petani, coklat basah terkena gerimis semalam. Seorang gadis membawa keranjang sayuran dipetiknya dari ladang. Terlihat berjalan sambil menundukkan wajahnya, tampak kesedihan dalam lipatan dahinya. Dengan langkah berat ia langkahkan kaki menuju tempat tinggal ayah, ibu, dia dan adiknya. Hidup di perkampungan kecil itu sekian lama turun temurun dari eyang-eyangnya dahulu.
Kampung kecil, jauh dari jalan raya, hilang dari hiruk pikuk pergaulan bsinis yang sinis. Sunyi pagi itu, sebagian warganya khususnya yang laki-laki pergi ke ladang menjenguk tumbuhnya harapan mereka yang pernah semi. Sebagian yang perempuan di rumah memasak sambil mengirimkan do’a - do’a mereka ke langit untuk Tuhan lewat aroma sedapnya, dengan harapan Tuhan mencium do’a mereka. Banyak pula srikandi-srikandi pencari rumput buat dang kambing dan kayu bakar untuk sekedar merebus beras. Kicau burung-burung menambha lengkap kesunyian laiknya kekasih yang ditinggal merantau. Taka ada suara radio seperti di desa lain, tak ada gambar televisi seperti di kampong sebelah yang dekat dengan jalan raya, tak ada Koran seperti di kecamatan. Benar-benar sunyi.
Sepuluh buah rumah berdiri di kampung itu, berbaris tak pernah teratur bagai tentara kehilangan komandannya, petualang kehilangan kompasnya. Di antara ladang dan kebun kopi. Dinding-dinding rumah mereka warna-warni sepertinya campuran catnya tidak pas sehingga mudah luntur terkena hujan. Atau mungkin cuma kapur. Bahan dindingnya dari papan mudah rapuh dimakan rayap atau beribik. Genting rumah mereka berwarna hijau ditumbuhi lumut-lumut akibat jarang terkena sinar matahari. Pepohonan rimbun tumbuh menjulang di samping-samping bangunan mereka, menambah senyap namun sejuk udar di sekitarnya.
Di salah satu bengunan rumah itu, tinggal sebuah keluarga dengan kepala keluarga bernama Urip Suraji, begitulah yang tertulis di KTP-nya. Entah nama asliya siapa. Katanya, itu nama pemberian orang tuanya karena dia lahir pada bulan Sura (bulan Jawa) tepat pada tanggal satu (siji).
Bersambung ......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon dengan sangat bagi para pengunjung situs ini untuk memberikan kritik dan saran serta komentar terhadap posting dan artikel kami!